Novel Pendek: Cinta yang Tersesat di Antara Dua Hati

Bab 1: Kehidupan yang Tampak Sempurna

Hana meletakkan cangkir kopinya di meja dapur, matanya mengarah ke luar jendela. Sinar matahari pagi menembus tirai tipis, menciptakan bayangan lembut di dinding. Rumahnya terlihat tenang, rapi, dan sempurna, seperti hidupnya di mata orang lain. Tapi di dalam hatinya, ada kekosongan yang sulit dijelaskan.

“Adrian, kamu nggak sarapan?” tanyanya sambil melirik ke arah suaminya yang sedang sibuk mengikat dasi di depan cermin ruang tamu.

Adrian menoleh sekilas, tersenyum tipis. “Nggak sempat, Han. Aku harus cepat-cepat, ada meeting penting pagi ini.”

Hana hanya mengangguk. Pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi. Adrian selalu sibuk. Sebelum menikah, ia tahu Adrian adalah pria yang ambisius, tapi ia tidak pernah menyangka ambisi itu akan mengubah dinamika rumah tangga mereka.

novel pendek Cinta yang Tersesat di Antara Dua Hat


“Kamu pulang jam berapa?” Hana mencoba terdengar santai, meskipun di dalam hatinya ia berharap Adrian akan menjawab sesuatu yang lebih personal, sesuatu yang lebih dari sekadar angka.

“Entahlah, mungkin agak malam. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan,” jawab Adrian sambil meraih jasnya.

Hana tersenyum pahit, mengangguk lagi. “Oke, hati-hati di jalan.”

Adrian menghampirinya, mencium keningnya dengan cepat sebelum melangkah keluar. Pintu tertutup pelan, meninggalkan Hana sendiri di rumah yang terasa terlalu sepi.

Di kantornya, Adrian mencoba fokus pada presentasi yang akan diberikan. Namun, pikirannya sesekali melayang pada Nadine, kolega barunya yang cerdas dan memesona. Nadine berbeda dari Hana. Dia ambisius, energik, dan penuh semangat, sesuatu yang Adrian merasa telah hilang dari hubungannya dengan Hana.

“Adrian, nanti setelah meeting, kita bisa bicara sebentar tentang proyek yang kemarin?” tanya Nadine sambil tersenyum manis.

Adrian mengangguk, merasa sedikit canggung. “Tentu. Aku juga ingin memastikan semuanya sesuai rencana.”

Ada sesuatu dalam tatapan mata Nadine yang membuat Adrian merasa tergoda, meskipun ia mencoba mengabaikannya.

Sementara itu, Hana memutuskan untuk keluar dari rumah dan pergi ke galeri seni tempatnya bekerja. Seni selalu menjadi pelariannya, ruang di mana ia bisa mengekspresikan apa yang tidak bisa ia ucapkan.

“Hana! Lama nggak lihat kamu di sini,” suara akrab itu membuat Hana menoleh.

Ia melihat seorang pria tinggi dengan senyum lebar menghampirinya. Farel, sahabat lama yang pernah menjadi bagian besar dalam hidupnya, kini berdiri di depannya dengan aura percaya diri yang sama seperti dulu.

“Farel? Ini benar-benar kamu?” Hana hampir tidak percaya. Sudah bertahun-tahun sejak mereka terakhir bertemu.

“Iya, aku baru pulang dari Jerman minggu lalu. Gimana kabar kamu?” Farel bertanya dengan antusias, matanya memancarkan kehangatan yang sudah lama Hana rindukan.

Pertemuan itu terasa seperti sebuah takdir. Mereka berbicara lama, mengingat masa lalu dan bercanda tentang hal-hal konyol yang pernah mereka lakukan bersama. Di tengah percakapan, Hana merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa diperhatikan, didengar, dan dihargai.

Ketika malam tiba, Hana kembali ke rumah. Adrian belum pulang, seperti yang sudah ia duga. Ia membuka ponselnya dan mendapati sebuah pesan masuk dari Farel.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu tadi, Han. Senang banget bisa ngobrol lagi dengan kamu.”

Hana tersenyum kecil, tetapi kemudian rasa bersalah mulai menyelusup. Ia segera meletakkan ponselnya dan mencoba tidur, namun pikirannya terus berputar. Adrian, Farel, kesepiannya, semuanya bercampur menjadi satu dalam kekosongan malam itu.

Di sisi lain kota, Adrian baru selesai makan malam bersama Nadine setelah rapat panjang mereka. Hanya sekadar makan malam, pikir Adrian. Tidak ada yang salah dengan itu, kan? Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa senyum Nadine mulai menggoyahkan batasannya.

Cliffhanger Bab 1:
Hana merasa ada sesuatu yang hilang dalam pernikahannya, dan pertemuannya dengan Farel membuatnya bertanya-tanya apakah ia terlalu percaya bahwa Adrian adalah satu-satunya orang untuknya. Sementara itu, Adrian mulai merasakan daya tarik terhadap Nadine, meskipun ia masih berusaha menyangkalnya.

 

Bab 2: Kembalinya Masa Lalu

Hana tidak bisa berhenti memikirkan pertemuannya dengan Farel. Ada sesuatu tentang dirinya yang terasa akrab sekaligus asing. Ia adalah bagian dari masa lalunya yang dulu penuh warna, sebelum segala rutinitas rumah tangga dan keheningan emosional mengambil alih hidupnya.

Hari itu, Farel menghubunginya lagi.

“Han, aku masih di sekitar sini. Kalau kamu sempat, mau nggak kita ketemu? Ada banyak hal yang pengin aku ceritain.”

Hana terdiam sejenak sebelum membalas. “Oke, di tempat yang kemarin saja?”

Farel setuju dengan cepat, dan beberapa jam kemudian, mereka kembali duduk di sebuah kafe kecil di dekat galeri seni.

“Jadi, kenapa kamu tiba-tiba pulang ke sini?” tanya Hana sambil menyeruput teh hangatnya.

Farel tersenyum tipis. “Sebenarnya aku nggak pernah lupa sama kota ini. Aku pulang karena rindu. Rindu semuanya, termasuk orang-orangnya.”

Hana tertawa kecil. “Orang-orangnya? Jangan bilang kamu juga rindu sama aku.”

Farel menatapnya dengan serius, membuat Hana sedikit gelisah. “Aku rindu kamu, Han. Sangat.”

Hana terkejut, tetapi ia menutupinya dengan senyum gugup. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ada sesuatu dalam kata-kata Farel yang menyentuh hatinya, meskipun ia tahu seharusnya tidak seperti itu.

“Aku nggak tahu harus jawab apa, Farel. Kita punya kehidupan masing-masing sekarang.”

Farel mengangguk. “Aku tahu, tapi aku nggak bisa pura-pura kalau aku nggak punya perasaan ini. Kamu tahu aku selalu ada buat kamu, kan?”

Di tempat lain, Adrian sedang berada di kantor, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya pada pekerjaannya. Nadine duduk di depannya, menyodorkan laporan sambil tersenyum lembut.

“Kamu kelihatan lelah hari ini,” komentar Nadine.

Adrian mendesah. “Banyak hal di kepala, Nadine. Kadang aku merasa apa yang aku lakukan nggak pernah cukup, baik di pekerjaan maupun di rumah.”

Nadine memiringkan kepalanya, menunjukkan empati. “Mungkin kamu perlu waktu untuk diri sendiri. Nggak apa-apa kok merasa seperti itu. Kamu manusia, Adrian.”

Adrian tersenyum kecil. Kata-kata Nadine selalu terasa menenangkan. Entah bagaimana, ia merasa lebih nyaman berbicara dengannya dibandingkan dengan Hana belakangan ini.

“Terima kasih, Nadine. Kamu selalu tahu apa yang harus dikatakan,” ujarnya, tanpa menyadari bahwa kehangatan di antara mereka semakin tumbuh.

Malamnya, Hana duduk di ruang tamu sambil memandangi ponselnya. Pesan Farel masuk lagi.

“Terima kasih untuk hari ini, Han. Aku senang banget bisa ngobrol sama kamu. Rasanya seperti dulu lagi.”

Hana mengetik balasan singkat. “Aku juga senang, Farel. Tapi kita harus ingat batasnya.”

Namun, sebelum ia mengirimkan pesan itu, Adrian pulang. Pintu depan berderit pelan, dan Adrian masuk dengan ekspresi lelah di wajahnya.

“Kamu sudah makan?” tanya Hana dengan nada lembut.

Adrian hanya mengangguk sambil melepas dasinya. “Sudah. Aku makan di luar dengan kolega kantor.”

Hana ingin bertanya lebih lanjut, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia tahu Adrian tidak akan menjelaskan lebih dari itu.

Adrian duduk di sofa, mengusap wajahnya dengan tangan. “Aku capek, Han. Maaf kalau aku akhir-akhir ini terlalu sibuk.”

Hana tersenyum tipis. “Aku mengerti, Adrian.”

Tapi ia tidak benar-benar mengerti. Kata-kata Adrian terasa hampa, seperti kebiasaan yang terus diulang tanpa makna.

Cliffhanger Bab 2:
Hana mulai merasakan bahwa perhatian Farel adalah sesuatu yang ia rindukan, sesuatu yang tidak lagi ia dapatkan dari Adrian. Di sisi lain, Adrian semakin terhubung dengan Nadine, tanpa menyadari bahwa ia mulai melanggar batas emosional yang seharusnya ia jaga.

 

Bab 3: Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Hana duduk di kafe tempat ia dan Farel biasa bertemu. Hari ini terasa berbeda. Ia tidak yakin apa yang membuatnya memutuskan untuk bertemu lagi dengan Farel. Mungkin karena ia merasa butuh pelarian.

Farel datang tepat waktu, mengenakan kemeja putih yang rapi dengan senyum lebar di wajahnya. “Hana, aku senang kamu mau datang lagi,” katanya sambil duduk di seberangnya.

Hana tersenyum kecil. “Aku hanya punya sedikit waktu, Farel. Jangan buat ini rumit.”

Farel tertawa kecil, tetapi sorot matanya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. “Aku nggak akan buat ini rumit. Aku cuma pengin tahu kamu baik-baik saja.”

Percakapan mereka dimulai dengan ringan, membicarakan kabar lama dan kehidupan Farel di luar negeri. Tapi seiring berjalannya waktu, suasana menjadi lebih intens.

“Kamu bahagia, Han?” tanya Farel tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Hana terdiam. Ia menggenggam cangkir tehnya lebih erat, merasa pertanyaan itu terlalu dekat dengan hatinya.

“Aku... aku nggak tahu, Farel,” jawabnya akhirnya. “Aku merasa semuanya berjalan baik, tapi ada yang hilang. Kadang aku nggak tahu apa yang sebenarnya aku cari.”

Farel mengangguk pelan, seolah memahami. “Aku mengerti. Kadang kita terjebak dalam rutinitas, lupa bahwa kita juga perlu bahagia.”

Hana tersenyum pahit. “Adrian orang yang baik. Dia mencintai aku. Aku tahu itu. Tapi...”

“Tapi kamu merasa kesepian,” potong Farel dengan suara lembut.

Hana mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan membuka perasaannya seperti ini, terutama kepada Farel.

“Han, aku tahu ini mungkin bukan tempatku, tapi aku cuma ingin kamu tahu kalau aku selalu ada buat kamu,” kata Farel dengan nada serius.

Sementara itu, Adrian sedang duduk di meja kerjanya, berusaha fokus pada laporan yang harus ia selesaikan. Tapi pikirannya terus melayang ke makan malam semalam bersama Nadine.

“Adrian, kamu sibuk?” suara Nadine membuyarkan lamunannya.

Adrian mendongak dan melihat Nadine berdiri di depan pintu ruangannya, membawa dua cangkir kopi. “Aku bawain kamu kopi. Aku pikir kamu butuh penyemangat.”

Adrian tersenyum. “Terima kasih, Nadine. Kamu terlalu perhatian.”

Nadine duduk di kursi seberangnya, menyeruput kopinya sambil memandang Adrian. “Aku cuma ingin memastikan kamu nggak terlalu stres. Kamu kerja terlalu keras, Adrian.”

Adrian tertawa kecil. “Terkadang pekerjaan memang menuntut. Tapi aku menikmatinya.”

“Dan bagaimana dengan kehidupan di rumah?” Nadine bertanya, tatapannya penuh rasa ingin tahu.

Adrian terdiam. Pertanyaan itu terlalu pribadi, tapi Nadine adalah orang yang membuatnya merasa nyaman untuk berbicara. “Rumah baik-baik saja, tapi... aku rasa hubungan kami berubah. Mungkin karena aku terlalu sibuk.”

Nadine mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada lembut, “Kamu harus memberikan waktu untuk dirimu sendiri juga. Kamu pantas bahagia, Adrian.”

Kata-kata itu terasa seperti dorongan bagi Adrian. Ia tidak tahu apakah Nadine benar-benar tulus atau ada sesuatu yang lain, tetapi ia merasa lebih dekat dengannya.

Malam itu, Adrian pulang lebih awal dari biasanya. Hana sedang duduk di ruang tamu, membaca buku.

“Kamu pulang cepat,” komentar Hana, terkejut melihat Adrian sudah di rumah sebelum makan malam.

Adrian tersenyum kecil. “Aku ingin menghabiskan waktu di rumah malam ini.”

Hana mengangguk, tetapi di dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah ini hanya sementara. Apakah Adrian benar-benar ingin menghabiskan waktu bersamanya, atau ini hanya perasaan bersalah yang sesaat?

Mereka makan malam bersama, tetapi percakapan mereka terasa hampa. Adrian sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Hana masih memikirkan kata-kata Farel.

Ketika Adrian pergi tidur lebih awal, Hana mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Farel.

“Terima kasih sudah mau cerita tadi. Kalau kamu butuh apa pun, aku selalu ada.”

Hana menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk membalas. “Terima kasih, Farel. Aku juga senang kamu ada di sini.”

Cliffhanger Bab 3:
Hana dan Adrian mulai memasuki kehidupan yang berbeda, masing-masing merasa lebih nyaman dengan orang lain dibandingkan satu sama lain. Hubungan mereka mulai retak, meskipun tidak ada yang berani mengakui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

 

Bab 4: Jarak yang Semakin Nyata

Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun matahari bersinar cerah. Hana bangun dari tidurnya dengan pikiran yang berkecamuk. Adrian sudah pergi lebih awal, tanpa sempat sarapan atau meninggalkan pesan. Hana mencoba mengabaikan rasa kecewa yang terus muncul.

Dia berjalan ke dapur dan menyalakan mesin kopi, berharap aromanya bisa mengusir perasaan kosong yang semakin sering ia rasakan belakangan ini.

Di kantor, Adrian sedang sibuk dengan presentasi mingguan bersama Nadine. Hari itu mereka bekerja lebih intens dari biasanya, menyusun strategi untuk proyek besar yang menjadi prioritas perusahaan.

“Adrian, aku suka caramu memimpin tim ini. Kamu selalu bisa membuat semua orang merasa dihargai,” kata Nadine sambil menatap Adrian dengan kagum.

Adrian tersenyum kecil. “Terima kasih, Nadine. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik.”

“Aku yakin kamu juga suami yang baik,” ujar Nadine tiba-tiba, membuat Adrian terdiam sejenak.

“Saya harap begitu,” jawab Adrian dengan nada yang lebih pelan.

Nadine tersenyum lembut, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Percakapan mereka terhenti sejenak, tetapi di antara keheningan itu, ada sesuatu yang tidak diucapkan namun terasa.

Sementara itu, Hana menghabiskan hari di galeri seni, mencoba melupakan kegelisahannya. Tapi pikirannya terus melayang pada Farel. Ia tidak bisa menyangkal bahwa perhatian Farel memberinya kenyamanan yang sudah lama hilang.

Farel muncul di galeri, membawa kopi favorit Hana. “Aku tahu kamu suka ini,” katanya dengan senyum lebar.

Hana terkejut sekaligus senang melihat Farel. “Kamu nggak perlu repot-repot, Farel.”

“Aku suka bikin kamu tersenyum, Han,” jawab Farel santai.

Mereka menghabiskan waktu bersama, berjalan-jalan di sekitar galeri dan membicarakan seni, masa lalu, serta hal-hal kecil yang membuat Hana merasa hidup. Di tengah kebersamaan itu, Hana merasakan sesuatu yang aneh: kebahagiaan yang sederhana, sesuatu yang sudah lama ia rindukan.

Malamnya, Adrian pulang terlambat lagi. Ia mendapati Hana sudah duduk di ruang tamu dengan ekspresi datar.

“Kamu sibuk lagi?” tanya Hana tanpa nada menyalahkan, meskipun matanya menunjukkan kekecewaan.

Adrian mengangguk. “Iya, maaf. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Hana mendesah pelan. “Adrian, aku nggak masalah kamu kerja keras. Tapi aku merasa kita semakin jauh.”

Adrian terdiam. Ia tahu Hana benar, tetapi ia tidak tahu harus berkata apa.

“Aku juga merasa seperti itu,” jawab Adrian akhirnya. “Tapi aku nggak tahu bagaimana memperbaikinya.”

“Kalau begitu kita harus bicara. Kita harus mencoba,” ujar Hana, suaranya hampir putus.

Namun, sebelum percakapan itu bisa berlanjut, telepon Adrian berdering. Ia mengangkatnya dengan cepat.

“Maaf, ini penting,” katanya sebelum pergi ke kamar untuk menjawab telepon.

Hana duduk di sofa, merasa percakapan mereka selalu terganggu oleh sesuatu. Ia merasa bahwa Adrian tidak lagi benar-benar hadir dalam hidupnya.

Di sisi lain kota, Nadine sedang menatap ponselnya. Ia tahu telepon itu hanya alasan Adrian untuk menghindari percakapan dengan Hana. Ada rasa bersalah di hatinya, tetapi juga kebahagiaan karena Adrian semakin mendekat padanya.

“Adrian, kamu baik-baik saja?” tanya Nadine di telepon.

“Aku nggak tahu, Nadine. Aku merasa terjebak.”

“Kamu tahu aku ada untukmu, kan?” Nadine berkata dengan lembut, dan Adrian hanya terdiam, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara.

Cliffhanger Bab 4:
Hana dan Adrian semakin menjauh. Di satu sisi, Hana menemukan kehangatan dan perhatian dari Farel, sementara Adrian merasa lebih nyaman berbagi dengan Nadine. Hubungan mereka yang dulu kuat mulai kehilangan fondasinya, meninggalkan keduanya dalam kebingungan dan rasa bersalah.

 

Bab 5: Ketidaksetiaan yang Tersembunyi

Hana sedang membereskan dapur ketika ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Farel muncul di layar:
“Lagi apa, Han? Aku ada waktu sore ini kalau kamu mau jalan-jalan.”

Hana menatap pesan itu cukup lama, jantungnya berdebar. Ia tahu seharusnya ia menolak. Tapi, ada rasa nyaman yang selalu muncul saat ia bersama Farel, sesuatu yang tidak lagi ia temukan bersama Adrian. Akhirnya, ia mengetik balasan.
“Aku sedang tidak sibuk. Mungkin kita bisa bertemu di taman dekat galeri?”

Di sisi lain kota, Adrian duduk di ruang kerja Nadine. Mereka baru saja menyelesaikan diskusi panjang tentang proyek yang sedang mereka kerjakan. Nadine menuangkan secangkir kopi untuk Adrian, lalu duduk di kursi seberangnya.

“Kamu kelihatan lelah,” komentar Nadine sambil menatap Adrian dengan tatapan lembut.

Adrian menghela napas. “Mungkin. Ada terlalu banyak hal yang harus kupikirkan.”

Nadine tersenyum kecil. “Kamu harus tahu kapan harus istirahat. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan stres.”

Kata-katanya terasa menenangkan. Tanpa sadar, Adrian mulai menceritakan hal-hal yang selama ini ia pendam: tentang pernikahannya yang mulai terasa hambar, tentang jarak yang semakin jauh antara dirinya dan Hana.

“Aku merasa... aku kehilangan koneksi dengannya,” ujar Adrian pelan.

Nadine mengangguk penuh empati. “Mungkin yang kamu butuhkan adalah seseorang yang benar-benar mengerti kamu. Seseorang yang bisa jadi pelengkap hidupmu.”

Adrian menatap Nadine. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat batas-batas moralnya mulai kabur. Namun, ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengangguk dan menerima kehadiran Nadine sebagai tempat pelariannya.

Sore itu, Hana dan Farel berjalan-jalan di taman. Matahari mulai terbenam, dan udara terasa sejuk. Mereka duduk di bangku taman, membicarakan hal-hal ringan yang membuat Hana melupakan kegelisahannya.

“Han, aku nggak tahu apakah ini waktu yang tepat untuk bilang ini, tapi aku merasa kamu bukan dirimu yang sebenarnya,” kata Farel tiba-tiba.

Hana menoleh, menatap Farel dengan bingung. “Apa maksudmu?”

“Kamu kelihatan nggak bahagia, Han. Aku kenal kamu lebih baik dari siapa pun, dan aku bisa melihatnya di matamu.”

Hana terdiam. Kata-kata Farel terasa seperti cermin yang memantulkan semua perasaannya.

“Aku... aku nggak tahu, Farel. Aku merasa kosong, tapi aku nggak tahu harus bagaimana,” jawab Hana akhirnya.

Farel menggenggam tangannya. “Kamu tahu aku selalu ada untukmu, Han. Kalau kamu butuh seseorang, aku di sini.”

Hana merasakan detak jantungnya semakin cepat. Sentuhan Farel terasa menenangkan, tetapi juga membingungkan. Ia tahu ini salah, tetapi ia tidak bisa menghindari kenyamanan yang ditawarkan Farel.

Malam itu, Adrian pulang terlambat lagi. Ia mendapati Hana sudah tertidur di sofa, dengan buku terbuka di tangannya. Adrian memperhatikannya sejenak, merasa ada sesuatu yang berubah pada istrinya. Tapi ia tidak tahu apa itu.

Ia masuk ke kamar, lalu mengecek ponselnya. Ada pesan dari Nadine:
“Terima kasih untuk hari ini, Adrian. Aku senang bisa mendengarkanmu.”

Adrian tidak membalas. Ia hanya menatap pesan itu cukup lama, merasa terjebak antara rasa bersalah dan kelegaan.

Hana terbangun di tengah malam dan melihat Adrian sudah berada di kamar. Ia berjalan pelan ke dapur untuk mengambil air, tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat ponsel Adrian tergeletak di meja. Sebuah pesan muncul di layar, cukup untuk membuat Hana terdiam:
“Besok aku siapkan dokumen yang kita butuhkan. Jangan lupa istirahat, ya. - Nadine.”

Hana menatap ponsel itu cukup lama, hatinya berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ada sesuatu dalam pesan itu yang membuatnya merasa ada yang tidak beres.

Cliffhanger Bab 5:
Hana mulai mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan Adrian, sementara ia sendiri terjebak dalam kebingungan emosional dengan Farel. Di sisi lain, hubungan Adrian dan Nadine semakin dalam, mengancam batas-batas kesetiaan yang seharusnya mereka jaga.

 

Bab 6: Kebohongan yang Terbongkar

 

Hana duduk di meja makan dengan secangkir kopi yang sudah dingin di hadapannya. Ia menatap kosong ke arah ponselnya, pikirannya penuh dengan pesan yang ia lihat semalam di ponsel Adrian. Nadine. Siapa dia? Apa hubungan mereka?

Hana tidak ingin menjadi istri yang paranoid, tapi ia merasa harus tahu kebenarannya. Dengan hati berat, ia membuka media sosial Adrian, sesuatu yang jarang ia lakukan. Di salah satu foto acara kantor, ia melihat sosok Nadine—seorang wanita cantik dengan senyum memikat, berdiri cukup dekat dengan Adrian.

Di kantor, Adrian sibuk memimpin rapat ketika Nadine masuk dengan berkas di tangannya. Ia memberikan senyum manis, seperti biasa, dan duduk di dekat Adrian.

“Adrian, aku sudah siapkan dokumen yang kamu minta,” ujar Nadine sambil menyerahkan sebuah map.

Adrian mengangguk. “Terima kasih, Nadine. Aku benar-benar menghargai semua kerja kerasmu.”

“Untukmu, aku akan selalu berusaha maksimal,” jawab Nadine sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diabaikan.

Adrian tersenyum kecil, mencoba mengalihkan perhatian dari perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya. Namun, ia tahu ia mulai melangkah ke arah yang salah.

Sore itu, Hana memutuskan untuk mengunjungi kantor Adrian tanpa memberitahunya. Ia ingin memastikan sendiri, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika ia tiba, suasana kantor tampak sibuk. Ia mendekati meja resepsionis dan memperkenalkan dirinya. “Saya Hana, istri Adrian. Apakah dia sedang di kantornya?”

Resepsionis terlihat sedikit bingung. “Oh, Adrian baru saja keluar. Dia pergi bersama Nadine, salah satu kolega kami. Mereka bilang ada rapat di luar kantor.”

Hana merasakan sesuatu dalam dirinya runtuh. Nadine. Lagi-lagi nama itu. Ia mengucapkan terima kasih dengan suara pelan, lalu keluar dari gedung dengan langkah berat.

Sementara itu, Adrian dan Nadine sedang makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Makan malam itu awalnya hanya untuk membahas pekerjaan, tetapi suasana menjadi lebih personal seiring waktu.

“Nadine, aku tidak pernah menyangka akan merasa seperti ini,” kata Adrian pelan, sambil memandangi gelas anggurnya.

Nadine menatapnya dengan penuh perhatian. “Seperti apa?”

“Seperti... aku bisa terbuka dengan seseorang. Aku merasa kamu mengerti aku, Nadine. Lebih dari siapa pun.”

Nadine tersenyum lembut. “Aku senang bisa ada untukmu, Adrian. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan.”

Momen itu terasa seperti waktu berhenti. Adrian tahu apa yang terjadi salah, tapi ia tidak bisa menghentikannya.

Di rumah, Hana mencoba menghubungi Adrian, tetapi panggilannya tidak dijawab. Ia merasa frustasi, seolah-olah ia sedang berbicara dengan seseorang yang perlahan-lahan menjauh darinya.

Farel, yang menyadari ada sesuatu yang salah dengan Hana, mengirim pesan.
“Han, aku ada di sekitar sini. Kalau kamu butuh seseorang untuk diajak bicara, aku siap.”

Hana merasa bimbang. Ia tahu berbicara dengan Farel akan membuatnya merasa lebih baik, tetapi ia juga sadar bahwa ini bisa membawa masalah baru. Akhirnya, ia mengetik balasan.
“Aku butuh teman bicara, Farel. Aku akan keluar sekarang.”

Ketika Hana bertemu Farel di sebuah kafe kecil, ia akhirnya membuka semua perasaannya. Tentang Adrian, tentang Nadine, tentang rasa kehilangan yang terus menghantuinya.

“Han, kamu nggak bisa terus-terusan seperti ini. Kamu harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan biarkan dirimu terjebak,” kata Farel dengan serius.

“Aku takut, Farel. Aku takut apa yang akan aku temukan,” jawab Hana dengan suara gemetar.

Farel menggenggam tangan Hana. “Apa pun yang terjadi, aku di sini untukmu.”

Hana merasakan hatinya hangat, tetapi juga dipenuhi rasa bersalah. Ia tahu apa yang ia lakukan ini salah, tetapi ia merasa tidak punya pilihan lain.

Ketika Adrian pulang larut malam, Hana sudah menunggunya di ruang tamu. Ia duduk dengan wajah serius, ponselnya di tangan.

“Kamu dari mana, Adrian?” tanya Hana langsung.

“Rapat,” jawab Adrian singkat.

“Dengan Nadine?” lanjut Hana, tatapannya tajam.

Adrian terdiam. Ia tidak menyangka Hana akan menyebut nama Nadine. “Iya, kami membahas pekerjaan.”

“Pekerjaan? Atau sesuatu yang lain?” suara Hana mulai bergetar.

“Hana, aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi aku nggak melakukan apa pun yang salah,” kata Adrian defensif.

“Benarkah? Lalu kenapa aku merasa seperti aku kehilangan kamu, Adrian? Kenapa kamu lebih sering bersama dia daripada aku?”

Pertengkaran itu meledak. Keduanya saling melempar kata-kata yang menyakitkan, saling menyalahkan, tanpa ada yang mau mengakui kesalahan. Akhirnya, Adrian mengambil jasnya dan keluar dari rumah, meninggalkan Hana dengan air mata yang tak terbendung.

Cliffhanger Bab 6:
Hana merasa hancur setelah pertengkaran besar mereka. Sementara itu, Adrian pergi mencari pelarian, dan pikirannya terus memikirkan Nadine. Hubungan mereka berdua semakin mendekati jurang kehancuran.

 

Bab 7: Cinta yang Membingungkan

Hana menatap jendela kamar, mencoba menenangkan pikirannya setelah pertengkaran besar dengan Adrian tadi malam. Suaminya tidak kembali, dan Hana tidak tahu di mana dia berada. Hatinya penuh dengan kebingungan dan sakit hati.

Ponselnya berbunyi, menampilkan nama Farel di layar.

“Hana, apa kamu baik-baik saja?” suara Farel terdengar lembut namun penuh kekhawatiran.

Hana menghela napas panjang sebelum menjawab. “Aku nggak tahu, Farel. Aku merasa semuanya hancur.”

“Aku di dekat rumahmu. Kalau kamu butuh seseorang, aku bisa datang sekarang,” tawar Farel.

Hana terdiam, lalu akhirnya berkata, “Tunggu aku di taman belakang. Aku akan ke sana.”

Sementara itu, Adrian duduk di sebuah bar kecil, menatap kosong ke gelas minumannya. Pikirannya penuh dengan pertengkaran dengan Hana dan tatapan kecewa di matanya.

Ponselnya bergetar, dan nama Nadine muncul di layar. Adrian menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Nadine dengan nada khawatir.

Adrian mendesah pelan. “Aku nggak tahu, Nadine. Rasanya semuanya kacau.”

“Kalau kamu butuh bicara, aku di sini. Aku bisa ke tempatmu,” tawar Nadine.

Adrian ragu sejenak, tetapi akhirnya setuju. “Aku ada di bar dekat kantor. Aku tunggu di sini.”

Beberapa menit kemudian, Nadine datang dengan senyuman lembut di wajahnya. Ia duduk di sebelah Adrian dan menatapnya dengan penuh empati.

“Aku tahu ini mungkin bukan urusanku, tapi aku bisa melihat kamu butuh seseorang yang mengerti kamu,” ujar Nadine.

Adrian tidak menjawab, tetapi kehadiran Nadine terasa seperti pelarian dari semua kekacauan di rumahnya.

Di taman belakang rumahnya, Hana duduk bersama Farel di bangku kayu yang menghadap kebun kecil.

“Farel, aku merasa seperti aku kehilangan semua yang pernah aku miliki,” kata Hana, suaranya gemetar.

Farel menatapnya dengan serius. “Hana, kamu adalah orang yang kuat. Tapi kamu juga manusia. Kamu berhak merasa lelah.”

Hana menatap Farel, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak tahu harus bagaimana, Farel. Aku nggak yakin apakah aku masih bisa memperbaiki ini semua.”

Farel menggenggam tangannya. “Kamu nggak perlu memutuskan sekarang. Tapi ingat, kamu nggak sendirian. Aku selalu ada untukmu.”

Hana merasa hatinya hangat mendengar kata-kata Farel. Dalam pelukan emosional itu, ia menemukan kenyamanan yang sudah lama hilang.

Malamnya, Adrian kembali ke rumah. Hana sudah berada di kamar, berbaring dengan punggung menghadap pintu. Adrian berdiri di ambang pintu, menatap istrinya dengan perasaan campur aduk.

“Hana,” panggil Adrian pelan.

Hana tidak menjawab, tetapi ia mendengar langkah Adrian mendekat.

“Aku minta maaf,” kata Adrian akhirnya. “Aku tahu aku salah. Aku tahu aku membuat jarak di antara kita.”

Hana tetap diam, tetapi air mata mulai mengalir di pipinya.

Adrian melanjutkan, suaranya penuh penyesalan. “Aku nggak tahu bagaimana memperbaiki semuanya, Hana. Tapi aku ingin mencoba, kalau kamu masih mau.”

Hana akhirnya berbalik, menatap Adrian dengan mata yang merah. “Aku juga ingin mencoba, Adrian. Tapi aku nggak tahu apakah kita masih bisa kembali seperti dulu.”

Malam itu, mereka tidur di ranjang yang sama, tetapi jarak di antara mereka terasa lebih nyata daripada sebelumnya.

Cliffhanger Bab 7:
Hana merasa bingung antara mencoba memperbaiki hubungannya dengan Adrian atau mengikuti perasaannya terhadap Farel. Sementara itu, Adrian mulai menyadari bahwa hubungannya dengan Nadine semakin memengaruhi pernikahannya, tetapi ia belum bisa memutuskan apakah akan berhenti atau terus melanjutkan.

 

Bab 8: Pengkhianatan yang Terungkap

Pagi itu, Hana duduk di meja makan sambil memainkan sendok di cangkir kopinya. Malam tadi ia dan Adrian berbicara, tetapi percakapan mereka tidak membawa jawaban. Jarak di antara mereka terasa terlalu jauh.

Adrian sudah pergi ke kantor lebih awal, dan Hana memutuskan untuk pergi ke galeri seni. Ia merasa perlu melarikan diri dari suasana rumah yang membebaninya.

Namun, di galeri, ia dikejutkan oleh kedatangan Farel.

“Hana, aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu,” kata Farel dengan nada tegas.

Hana menatapnya dengan mata penuh kebingungan. “Farel, aku nggak tahu apakah aku bisa melakukan ini. Hidupku sudah terlalu rumit.”

Farel mendekat, menatapnya dengan penuh keyakinan. “Aku nggak minta kamu memutuskan sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini untukmu, apa pun yang terjadi.”

Di kantor, Adrian sedang duduk di ruangannya ketika Nadine masuk dengan membawa map dokumen.

“Adrian, aku sudah siapkan semuanya untuk presentasi,” katanya sambil meletakkan map di meja.

Adrian tersenyum kecil. “Terima kasih, Nadine. Kamu selalu bisa diandalkan.”

Mereka berbicara sebentar tentang pekerjaan, tetapi pembicaraan itu berubah menjadi percakapan yang lebih personal.

“Nadine, aku merasa bersalah,” kata Adrian tiba-tiba.

Nadine menatapnya dengan cemas. “Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Aku tahu aku melibatkanmu terlalu jauh dalam hidupku. Aku merasa ini salah, tetapi aku juga nggak bisa menghentikan diri.”

Nadine mendekat, duduk di kursi di seberangnya. “Adrian, aku tidak pernah memaksamu. Aku hanya ingin kamu bahagia. Kalau aku bisa menjadi bagian dari kebahagiaan itu, aku akan senang.”

Adrian terdiam. Kata-kata Nadine membuatnya merasa nyaman, tetapi juga menambah rasa bersalahnya terhadap Hana.

Sore itu, Hana memutuskan untuk memberanikan diri memeriksa ponsel Adrian. Ketika Adrian mandi, Hana mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Ia membuka pesan-pesan di dalamnya dan menemukan percakapan panjang antara Adrian dan Nadine.

Pesan-pesan itu penuh dengan keintiman yang tidak pernah lagi ia dapatkan dari Adrian. Pesan terakhir dari Nadine membuat tubuhnya gemetar:
“Adrian, aku senang kita bisa bersama tadi malam. Aku harap kita punya lebih banyak waktu seperti itu.”

Hana merasa seluruh dunianya runtuh. Tangannya gemetar saat meletakkan ponsel itu kembali di meja. Ketika Adrian keluar dari kamar mandi, ia mendapati Hana duduk di tepi ranjang dengan wajah penuh kemarahan dan air mata.

“Kamu benar-benar melakukannya, Adrian?” tanya Hana dengan suara bergetar.

Adrian terlihat bingung. “Apa maksudmu, Hana?”

Hana menunjuk ponselnya. “Aku membaca pesan-pesanmu. Nadine. Jadi selama ini aku benar, kan? Kamu selingkuh!”

Adrian terdiam, wajahnya berubah pucat. Ia mencoba berbicara, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Kenapa, Adrian? Apa aku kurang cukup untukmu?” Hana hampir berteriak, air matanya mengalir deras.

“Aku... aku nggak tahu, Hana. Aku merasa kita kehilangan sesuatu. Dan Nadine... dia hanya—”

“Dia hanya apa? Pelarian? Tempat kamu kabur dari masalah kita?” Hana memotong dengan suara penuh luka.

Adrian mencoba mendekat, tetapi Hana mundur. “Jangan sentuh aku, Adrian. Aku nggak tahu apakah aku bisa memaafkan ini.”

Malam itu, Adrian meninggalkan rumah untuk memberi ruang bagi Hana. Ia pergi ke apartemen Nadine, merasa bingung dan kehilangan. Nadine membuka pintu dengan senyum, tetapi Adrian tidak bisa membalasnya.

“Nadine, aku nggak bisa terus begini,” kata Adrian, suaranya berat.

“Apa maksudmu?” tanya Nadine dengan cemas.

“Hubungan kita salah. Aku sudah menghancurkan banyak hal di rumah, dan aku nggak mau menghancurkan lebih banyak lagi.”

Nadine terdiam, lalu berkata pelan, “Aku mengerti, Adrian. Tapi aku juga mencintaimu.”

Adrian hanya menunduk, tidak bisa menjawab.

Di rumah, Hana menangis sendirian di kamar. Ia membuka ponselnya dan melihat pesan dari Farel.

“Hana, aku di sini kalau kamu butuh aku.”

Hana mengetik balasan dengan tangan gemetar. “Aku butuh kamu, Farel. Sekarang.”

Cliffhanger Bab 8:
Hana akhirnya mengetahui pengkhianatan Adrian, sementara Adrian mencoba melepaskan hubungannya dengan Nadine. Di sisi lain, Hana semakin mendekatkan dirinya kepada Farel, membawa hubungan mereka ke titik yang tidak bisa kembali.

 

Bab 9: Penyesalan dan Pilihan

Hana duduk di sebuah kafe kecil, memandang kosong ke luar jendela. Di hadapannya, Farel menatapnya dengan cemas, mencoba memahami apa yang terjadi.

“Hana, kamu kelihatan seperti membawa beban berat di pundakmu. Cerita sama aku,” katanya dengan lembut.

Hana menghela napas panjang. “Adrian selingkuh, Farel. Aku melihat semua pesan-pesannya dengan Nadine.”

Farel terdiam, mencoba menahan amarah yang berkobar di dadanya. “Aku tahu dia sering sibuk, tapi aku nggak nyangka dia bisa melakukan itu. Kamu nggak pantas diperlakukan seperti ini, Hana.”

Air mata mulai mengalir di pipi Hana. “Aku nggak tahu harus bagaimana. Aku marah, aku kecewa, tapi aku juga nggak bisa bilang aku nggak mencintainya.”

Farel menggenggam tangan Hana. “Hana, kadang cinta nggak cukup. Kalau dia nggak menghargai kamu, kamu harus memilih dirimu sendiri.”

Hana terdiam, merasa tersentuh oleh kata-kata Farel. Tapi hatinya masih penuh dengan kebingungan.

Di tempat lain, Adrian duduk di ruang tamu apartemen Nadine, merasa berat setelah percakapan mereka malam sebelumnya.

“Nadine, aku harus kembali ke rumah,” katanya pelan.

Nadine menatapnya dengan luka di matanya. “Jadi kamu memilih untuk kembali padanya? Setelah semua yang kita lalui?”

Adrian menunduk. “Aku nggak bilang semuanya bisa kembali seperti semula. Tapi aku nggak bisa terus seperti ini. Aku sudah menghancurkan cukup banyak hal.”

Nadine menarik napas panjang, berusaha menahan air mata. “Aku hanya ingin kamu bahagia, Adrian. Kalau itu berarti kembali padanya, aku akan terima.”

Adrian berdiri, menatap Nadine untuk terakhir kalinya sebelum pergi. Ia merasa kosong, tetapi ia tahu ini adalah langkah yang harus ia ambil.

Malam itu, Adrian kembali ke rumah. Hana duduk di ruang tamu, menatapnya dengan dingin.

“Kamu kembali?” tanya Hana, suaranya datar.

Adrian mengangguk. “Aku tahu aku salah, Hana. Aku nggak punya alasan untuk apa yang sudah aku lakukan. Tapi aku ingin mencoba memperbaiki semuanya, kalau kamu masih memberiku kesempatan.”

Hana tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. “Kesempatan? Adrian, kamu tahu seberapa dalam luka yang kamu buat?”

“Aku tahu, dan aku nggak akan menyalahkanmu kalau kamu nggak bisa memaafkan aku. Tapi aku ingin memperjuangkan kita, Hana,” kata Adrian dengan suara penuh penyesalan.

Hana terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Aku butuh waktu. Aku nggak bisa memutuskan sekarang.”

Adrian mengangguk. “Aku akan menunggumu.”

Beberapa hari berlalu, dan Hana mencoba mencari ketenangan dalam dirinya. Ia menghabiskan waktu sendirian di galeri seni, merenungkan hidupnya. Di sisi lain, Farel terus menghubunginya, menawarkan perhatian dan kenyamanan.

“Hana, aku nggak mau memaksa. Tapi aku ingin kamu tahu, aku selalu ada di sini untukmu,” ujar Farel dalam sebuah percakapan telepon.

Hana merasa terjebak antara dua pilihan: memaafkan Adrian dan mencoba membangun kembali rumah tangganya, atau memulai hidup baru bersama Farel yang memberinya kenyamanan yang telah lama hilang.

Sementara itu, Adrian berusaha membuktikan dirinya. Ia mulai pulang tepat waktu, menunjukkan perhatian kecil seperti membuatkan teh untuk Hana atau membantunya di dapur. Tapi ia tahu ini tidak cukup untuk menghapus kesalahannya.

Suatu malam, saat mereka makan malam bersama, Adrian berkata, “Hana, aku ingin kamu tahu bahwa apa pun keputusanmu, aku akan menerimanya. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu, meskipun aku telah membuat kesalahan besar.”

Hana menatapnya, merasa hatinya mulai luluh, tetapi luka itu masih terlalu dalam untuk sepenuhnya sembuh.

Cliffhanger Bab 9:
Hana masih bimbang antara memperjuangkan pernikahannya atau memilih untuk melepaskan semuanya dan memulai hidup baru bersama Farel. Adrian terus berusaha membuktikan bahwa ia bisa berubah, tetapi apakah itu cukup untuk menghapus pengkhianatan yang sudah terjadi?

 

Bab 10: Akhir yang Tidak Sempurna

Hana berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang terlihat letih. Berhari-hari ia mencoba membuat keputusan, tetapi hatinya terus berkonflik. Adrian, suaminya, adalah cinta pertamanya, seseorang yang selalu ia percayai hingga pengkhianatan itu menghancurkan segalanya. Di sisi lain, ada Farel, sosok yang menawarkan kenyamanan dan kebahagiaan yang pernah ia lupakan.

Hari itu, Hana memutuskan untuk bertemu dengan keduanya, satu per satu, demi mendapatkan kejelasan dalam hatinya.

Pertemuan dengan Farel

Hana dan Farel duduk di taman, tempat yang menjadi saksi pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.

“Farel, kamu tahu aku sangat menghargai kamu,” kata Hana dengan suara pelan.

“Aku tahu, Hana. Tapi aku ingin lebih dari itu. Aku ingin ada di sisimu, membuatmu bahagia,” jawab Farel tegas.

Hana menunduk, bermain dengan cincin di jarinya. “Kamu memberiku kenyamanan yang tidak bisa aku temukan di tempat lain. Tapi, Farel, aku masih terikat dengan masa lalu. Aku masih mencintai Adrian, meskipun dia telah melukai aku.”

Farel menatapnya dengan raut kecewa, tetapi ia tetap tenang. “Aku mengerti, Hana. Aku hanya ingin kamu bahagia, apa pun pilihanmu. Kalau suatu hari kamu butuh aku lagi, aku akan ada di sini.”

Air mata mengalir di pipi Hana. Ia tahu ia harus melepaskan Farel, meskipun ia sangat menghargai kehadirannya dalam hidupnya.

Pertemuan dengan Adrian

Adrian menunggu Hana di ruang tamu rumah mereka. Ketika Hana masuk, ia berdiri, tampak gugup tetapi penuh harap.

“Hana, aku nggak tahu apa yang akan kamu katakan. Tapi aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan,” kata Adrian dengan suara serak.

Hana duduk di sofa, menatap Adrian dengan mata yang penuh emosi. “Adrian, aku nggak akan pernah bisa melupakan apa yang kamu lakukan. Tapi aku juga tahu bahwa aku masih mencintaimu, meskipun itu menyakitkan.”

Adrian mendekat, tetapi menjaga jarak agar tidak membuat Hana merasa tertekan. “Aku bersedia melakukan apa pun untuk memperbaiki ini. Aku tahu aku tidak bisa menghapus apa yang terjadi, tapi aku ingin mencoba membangun kembali kepercayaanmu.”

Hana menatap cincin pernikahannya, mencoba menemukan kekuatan untuk berkata, “Adrian, ini nggak akan mudah. Luka ini terlalu dalam. Tapi aku ingin mencoba memperbaikinya, untuk kita.”

Adrian terkejut, tetapi ia segera mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Hana. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Epilog

Beberapa bulan kemudian, Hana dan Adrian perlahan mencoba membangun kembali hubungan mereka. Prosesnya tidak mudah. Luka pengkhianatan masih membekas, tetapi mereka sepakat untuk berkomunikasi lebih baik dan saling memahami.

Farel memutuskan untuk meninggalkan kota, memberikan ruang bagi Hana untuk menjalani pilihannya tanpa distraksi. Sebelum pergi, ia mengirim pesan singkat:
“Hana, aku akan selalu mengingatmu. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang kamu cari.”

Hana tersenyum pahit saat membaca pesan itu, merasa bersyukur memiliki seseorang seperti Farel di hidupnya.

Adrian, di sisi lain, terus berusaha menunjukkan perubahan. Ia lebih hadir dalam kehidupan Hana, memberikan perhatian yang selama ini terabaikan.

Meskipun perjalanan mereka penuh dengan luka, Hana dan Adrian memutuskan untuk tetap berjalan bersama, berharap waktu akan membantu menyembuhkan apa yang telah hancur.

Akhir yang Tidak Sempurna
Hana menyadari bahwa cinta tidak pernah benar-benar sederhana. Pengkhianatan meninggalkan bekas yang sulit dihapus, tetapi ia memilih untuk berjuang demi sesuatu yang pernah mereka bangun bersama. Namun, bayangan masa lalu, baik Farel maupun Nadine, tetap menjadi pengingat bahwa cinta membutuhkan kepercayaan, usaha, dan, terkadang, pengorbanan.

Penutup
Hubungan mereka mungkin tidak akan pernah sama seperti dulu, tetapi mereka memilih untuk tidak menyerah. Dalam perjalanan cinta, mungkin tidak ada akhir yang sempurna—hanya pilihan yang dibuat dengan hati.

Novel Pendek ini ditulis oleh penulis Novel Pendek Dukala Art.