Novel Pendek: Cinta yang Tersesat di Antara Dua Hati
Bab 1: Kehidupan yang Tampak Sempurna
Hana meletakkan cangkir kopinya di meja dapur, matanya
mengarah ke luar jendela. Sinar matahari pagi menembus tirai tipis, menciptakan
bayangan lembut di dinding. Rumahnya terlihat tenang, rapi, dan sempurna,
seperti hidupnya di mata orang lain. Tapi di dalam hatinya, ada kekosongan yang
sulit dijelaskan.
“Adrian, kamu nggak sarapan?” tanyanya sambil melirik ke
arah suaminya yang sedang sibuk mengikat dasi di depan cermin ruang tamu.
Adrian menoleh sekilas, tersenyum tipis. “Nggak sempat, Han.
Aku harus cepat-cepat, ada meeting penting pagi ini.”
Hana hanya mengangguk. Pemandangan seperti ini sudah biasa
terjadi. Adrian selalu sibuk. Sebelum menikah, ia tahu Adrian adalah pria yang
ambisius, tapi ia tidak pernah menyangka ambisi itu akan mengubah dinamika
rumah tangga mereka.
“Kamu pulang jam berapa?” Hana mencoba terdengar santai,
meskipun di dalam hatinya ia berharap Adrian akan menjawab sesuatu yang lebih
personal, sesuatu yang lebih dari sekadar angka.
“Entahlah, mungkin agak malam. Ada pekerjaan yang harus
diselesaikan,” jawab Adrian sambil meraih jasnya.
Hana tersenyum pahit, mengangguk lagi. “Oke, hati-hati di
jalan.”
Adrian menghampirinya, mencium keningnya dengan cepat
sebelum melangkah keluar. Pintu tertutup pelan, meninggalkan Hana sendiri di
rumah yang terasa terlalu sepi.
Di kantornya, Adrian mencoba fokus pada presentasi yang akan
diberikan. Namun, pikirannya sesekali melayang pada Nadine, kolega barunya yang
cerdas dan memesona. Nadine berbeda dari Hana. Dia ambisius, energik, dan penuh
semangat, sesuatu yang Adrian merasa telah hilang dari hubungannya dengan Hana.
“Adrian, nanti setelah meeting, kita bisa bicara sebentar
tentang proyek yang kemarin?” tanya Nadine sambil tersenyum manis.
Adrian mengangguk, merasa sedikit canggung. “Tentu. Aku juga
ingin memastikan semuanya sesuai rencana.”
Ada sesuatu dalam tatapan mata Nadine yang membuat Adrian
merasa tergoda, meskipun ia mencoba mengabaikannya.
Sementara itu, Hana memutuskan untuk keluar dari rumah dan
pergi ke galeri seni tempatnya bekerja. Seni selalu menjadi pelariannya, ruang
di mana ia bisa mengekspresikan apa yang tidak bisa ia ucapkan.
“Hana! Lama nggak lihat kamu di sini,” suara akrab itu
membuat Hana menoleh.
Ia melihat seorang pria tinggi dengan senyum lebar
menghampirinya. Farel, sahabat lama yang pernah menjadi bagian besar dalam
hidupnya, kini berdiri di depannya dengan aura percaya diri yang sama seperti
dulu.
“Farel? Ini benar-benar kamu?” Hana hampir tidak percaya.
Sudah bertahun-tahun sejak mereka terakhir bertemu.
“Iya, aku baru pulang dari Jerman minggu lalu. Gimana kabar
kamu?” Farel bertanya dengan antusias, matanya memancarkan kehangatan yang
sudah lama Hana rindukan.
Pertemuan itu terasa seperti sebuah takdir. Mereka berbicara
lama, mengingat masa lalu dan bercanda tentang hal-hal konyol yang pernah
mereka lakukan bersama. Di tengah percakapan, Hana merasa ada sesuatu yang
berbeda dalam dirinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa
diperhatikan, didengar, dan dihargai.
Ketika malam tiba, Hana kembali ke rumah. Adrian belum
pulang, seperti yang sudah ia duga. Ia membuka ponselnya dan mendapati sebuah
pesan masuk dari Farel.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu tadi, Han. Senang
banget bisa ngobrol lagi dengan kamu.”
Hana tersenyum kecil, tetapi kemudian rasa bersalah mulai
menyelusup. Ia segera meletakkan ponselnya dan mencoba tidur, namun pikirannya
terus berputar. Adrian, Farel, kesepiannya, semuanya bercampur menjadi satu
dalam kekosongan malam itu.
Di sisi lain kota, Adrian baru selesai makan malam bersama
Nadine setelah rapat panjang mereka. Hanya sekadar makan malam, pikir Adrian.
Tidak ada yang salah dengan itu, kan? Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa
senyum Nadine mulai menggoyahkan batasannya.
Cliffhanger Bab 1:
Hana merasa ada sesuatu yang hilang dalam pernikahannya, dan pertemuannya
dengan Farel membuatnya bertanya-tanya apakah ia terlalu percaya bahwa Adrian
adalah satu-satunya orang untuknya. Sementara itu, Adrian mulai merasakan daya
tarik terhadap Nadine, meskipun ia masih berusaha menyangkalnya.
Bab 2: Kembalinya Masa Lalu
Hana tidak bisa berhenti memikirkan pertemuannya dengan
Farel. Ada sesuatu tentang dirinya yang terasa akrab sekaligus asing. Ia adalah
bagian dari masa lalunya yang dulu penuh warna, sebelum segala rutinitas rumah
tangga dan keheningan emosional mengambil alih hidupnya.
Hari itu, Farel menghubunginya lagi.
“Han, aku masih di sekitar sini. Kalau kamu sempat, mau
nggak kita ketemu? Ada banyak hal yang pengin aku ceritain.”
Hana terdiam sejenak sebelum membalas. “Oke, di tempat yang
kemarin saja?”
Farel setuju dengan cepat, dan beberapa jam kemudian, mereka
kembali duduk di sebuah kafe kecil di dekat galeri seni.
“Jadi, kenapa kamu tiba-tiba pulang ke sini?” tanya Hana
sambil menyeruput teh hangatnya.
Farel tersenyum tipis. “Sebenarnya aku nggak pernah lupa
sama kota ini. Aku pulang karena rindu. Rindu semuanya, termasuk
orang-orangnya.”
Hana tertawa kecil. “Orang-orangnya? Jangan bilang kamu juga
rindu sama aku.”
Farel menatapnya dengan serius, membuat Hana sedikit
gelisah. “Aku rindu kamu, Han. Sangat.”
Hana terkejut, tetapi ia menutupinya dengan senyum gugup. Ia
tidak tahu harus berkata apa. Ada sesuatu dalam kata-kata Farel yang menyentuh
hatinya, meskipun ia tahu seharusnya tidak seperti itu.
“Aku nggak tahu harus jawab apa, Farel. Kita punya kehidupan
masing-masing sekarang.”
Farel mengangguk. “Aku tahu, tapi aku nggak bisa pura-pura
kalau aku nggak punya perasaan ini. Kamu tahu aku selalu ada buat kamu, kan?”
Di tempat lain, Adrian sedang berada di kantor, tetapi
pikirannya tidak sepenuhnya pada pekerjaannya. Nadine duduk di depannya,
menyodorkan laporan sambil tersenyum lembut.
“Kamu kelihatan lelah hari ini,” komentar Nadine.
Adrian mendesah. “Banyak hal di kepala, Nadine. Kadang aku
merasa apa yang aku lakukan nggak pernah cukup, baik di pekerjaan maupun di
rumah.”
Nadine memiringkan kepalanya, menunjukkan empati. “Mungkin
kamu perlu waktu untuk diri sendiri. Nggak apa-apa kok merasa seperti itu. Kamu
manusia, Adrian.”
Adrian tersenyum kecil. Kata-kata Nadine selalu terasa
menenangkan. Entah bagaimana, ia merasa lebih nyaman berbicara dengannya
dibandingkan dengan Hana belakangan ini.
“Terima kasih, Nadine. Kamu selalu tahu apa yang harus
dikatakan,” ujarnya, tanpa menyadari bahwa kehangatan di antara mereka semakin
tumbuh.
Malamnya, Hana duduk di ruang tamu sambil memandangi
ponselnya. Pesan Farel masuk lagi.
“Terima kasih untuk hari ini, Han. Aku senang banget bisa
ngobrol sama kamu. Rasanya seperti dulu lagi.”
Hana mengetik balasan singkat. “Aku juga senang, Farel. Tapi
kita harus ingat batasnya.”
Namun, sebelum ia mengirimkan pesan itu, Adrian pulang.
Pintu depan berderit pelan, dan Adrian masuk dengan ekspresi lelah di wajahnya.
“Kamu sudah makan?” tanya Hana dengan nada lembut.
Adrian hanya mengangguk sambil melepas dasinya. “Sudah. Aku
makan di luar dengan kolega kantor.”
Hana ingin bertanya lebih lanjut, tetapi ia mengurungkan
niatnya. Ia tahu Adrian tidak akan menjelaskan lebih dari itu.
Adrian duduk di sofa, mengusap wajahnya dengan tangan. “Aku
capek, Han. Maaf kalau aku akhir-akhir ini terlalu sibuk.”
Hana tersenyum tipis. “Aku mengerti, Adrian.”
Tapi ia tidak benar-benar mengerti. Kata-kata Adrian terasa
hampa, seperti kebiasaan yang terus diulang tanpa makna.
Cliffhanger Bab 2:
Hana mulai merasakan bahwa perhatian Farel adalah sesuatu yang ia rindukan,
sesuatu yang tidak lagi ia dapatkan dari Adrian. Di sisi lain, Adrian semakin
terhubung dengan Nadine, tanpa menyadari bahwa ia mulai melanggar batas
emosional yang seharusnya ia jaga.
Bab 3: Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Hana duduk di kafe tempat ia dan Farel biasa bertemu. Hari
ini terasa berbeda. Ia tidak yakin apa yang membuatnya memutuskan untuk bertemu
lagi dengan Farel. Mungkin karena ia merasa butuh pelarian.
Farel datang tepat waktu, mengenakan kemeja putih yang rapi
dengan senyum lebar di wajahnya. “Hana, aku senang kamu mau datang lagi,”
katanya sambil duduk di seberangnya.
Hana tersenyum kecil. “Aku hanya punya sedikit waktu, Farel.
Jangan buat ini rumit.”
Farel tertawa kecil, tetapi sorot matanya menunjukkan
sesuatu yang lebih dalam. “Aku nggak akan buat ini rumit. Aku cuma pengin tahu
kamu baik-baik saja.”
Percakapan mereka dimulai dengan ringan, membicarakan kabar
lama dan kehidupan Farel di luar negeri. Tapi seiring berjalannya waktu,
suasana menjadi lebih intens.
“Kamu bahagia, Han?” tanya Farel tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Hana terdiam. Ia menggenggam cangkir
tehnya lebih erat, merasa pertanyaan itu terlalu dekat dengan hatinya.
“Aku... aku nggak tahu, Farel,” jawabnya akhirnya. “Aku
merasa semuanya berjalan baik, tapi ada yang hilang. Kadang aku nggak tahu apa
yang sebenarnya aku cari.”
Farel mengangguk pelan, seolah memahami. “Aku mengerti.
Kadang kita terjebak dalam rutinitas, lupa bahwa kita juga perlu bahagia.”
Hana tersenyum pahit. “Adrian orang yang baik. Dia mencintai
aku. Aku tahu itu. Tapi...”
“Tapi kamu merasa kesepian,” potong Farel dengan suara
lembut.
Hana mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak
menyangka akan membuka perasaannya seperti ini, terutama kepada Farel.
“Han, aku tahu ini mungkin bukan tempatku, tapi aku cuma
ingin kamu tahu kalau aku selalu ada buat kamu,” kata Farel dengan nada serius.
Sementara itu, Adrian sedang duduk di meja kerjanya,
berusaha fokus pada laporan yang harus ia selesaikan. Tapi pikirannya terus
melayang ke makan malam semalam bersama Nadine.
“Adrian, kamu sibuk?” suara Nadine membuyarkan lamunannya.
Adrian mendongak dan melihat Nadine berdiri di depan pintu
ruangannya, membawa dua cangkir kopi. “Aku bawain kamu kopi. Aku pikir kamu
butuh penyemangat.”
Adrian tersenyum. “Terima kasih, Nadine. Kamu terlalu
perhatian.”
Nadine duduk di kursi seberangnya, menyeruput kopinya sambil
memandang Adrian. “Aku cuma ingin memastikan kamu nggak terlalu stres. Kamu
kerja terlalu keras, Adrian.”
Adrian tertawa kecil. “Terkadang pekerjaan memang menuntut.
Tapi aku menikmatinya.”
“Dan bagaimana dengan kehidupan di rumah?” Nadine bertanya,
tatapannya penuh rasa ingin tahu.
Adrian terdiam. Pertanyaan itu terlalu pribadi, tapi Nadine
adalah orang yang membuatnya merasa nyaman untuk berbicara. “Rumah baik-baik
saja, tapi... aku rasa hubungan kami berubah. Mungkin karena aku terlalu
sibuk.”
Nadine mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada lembut,
“Kamu harus memberikan waktu untuk dirimu sendiri juga. Kamu pantas bahagia,
Adrian.”
Kata-kata itu terasa seperti dorongan bagi Adrian. Ia tidak
tahu apakah Nadine benar-benar tulus atau ada sesuatu yang lain, tetapi ia
merasa lebih dekat dengannya.
Malam itu, Adrian pulang lebih awal dari biasanya. Hana
sedang duduk di ruang tamu, membaca buku.
“Kamu pulang cepat,” komentar Hana, terkejut melihat Adrian
sudah di rumah sebelum makan malam.
Adrian tersenyum kecil. “Aku ingin menghabiskan waktu di
rumah malam ini.”
Hana mengangguk, tetapi di dalam hatinya, ia bertanya-tanya
apakah ini hanya sementara. Apakah Adrian benar-benar ingin menghabiskan waktu
bersamanya, atau ini hanya perasaan bersalah yang sesaat?
Mereka makan malam bersama, tetapi percakapan mereka terasa
hampa. Adrian sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Hana masih memikirkan
kata-kata Farel.
Ketika Adrian pergi tidur lebih awal, Hana mengambil
ponselnya dan melihat pesan dari Farel.
“Terima kasih sudah mau cerita tadi. Kalau kamu butuh apa
pun, aku selalu ada.”
Hana menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya
memutuskan untuk membalas. “Terima kasih, Farel. Aku juga senang kamu ada di
sini.”
Cliffhanger Bab 3:
Hana dan Adrian mulai memasuki kehidupan yang berbeda, masing-masing merasa
lebih nyaman dengan orang lain dibandingkan satu sama lain. Hubungan mereka
mulai retak, meskipun tidak ada yang berani mengakui apa yang sebenarnya sedang
terjadi.
Bab 4: Jarak yang Semakin Nyata
Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun
matahari bersinar cerah. Hana bangun dari tidurnya dengan pikiran yang
berkecamuk. Adrian sudah pergi lebih awal, tanpa sempat sarapan atau
meninggalkan pesan. Hana mencoba mengabaikan rasa kecewa yang terus muncul.
Dia berjalan ke dapur dan menyalakan mesin kopi, berharap
aromanya bisa mengusir perasaan kosong yang semakin sering ia rasakan
belakangan ini.
Di kantor, Adrian sedang sibuk dengan presentasi mingguan
bersama Nadine. Hari itu mereka bekerja lebih intens dari biasanya, menyusun
strategi untuk proyek besar yang menjadi prioritas perusahaan.
“Adrian, aku suka caramu memimpin tim ini. Kamu selalu bisa
membuat semua orang merasa dihargai,” kata Nadine sambil menatap Adrian dengan
kagum.
Adrian tersenyum kecil. “Terima kasih, Nadine. Aku hanya
berusaha melakukan yang terbaik.”
“Aku yakin kamu juga suami yang baik,” ujar Nadine
tiba-tiba, membuat Adrian terdiam sejenak.
“Saya harap begitu,” jawab Adrian dengan nada yang lebih
pelan.
Nadine tersenyum lembut, tetapi tidak berkata apa-apa lagi.
Percakapan mereka terhenti sejenak, tetapi di antara keheningan itu, ada
sesuatu yang tidak diucapkan namun terasa.
Sementara itu, Hana menghabiskan hari di galeri seni,
mencoba melupakan kegelisahannya. Tapi pikirannya terus melayang pada Farel. Ia
tidak bisa menyangkal bahwa perhatian Farel memberinya kenyamanan yang sudah
lama hilang.
Farel muncul di galeri, membawa kopi favorit Hana. “Aku tahu
kamu suka ini,” katanya dengan senyum lebar.
Hana terkejut sekaligus senang melihat Farel. “Kamu nggak
perlu repot-repot, Farel.”
“Aku suka bikin kamu tersenyum, Han,” jawab Farel santai.
Mereka menghabiskan waktu bersama, berjalan-jalan di sekitar
galeri dan membicarakan seni, masa lalu, serta hal-hal kecil yang membuat Hana
merasa hidup. Di tengah kebersamaan itu, Hana merasakan sesuatu yang aneh:
kebahagiaan yang sederhana, sesuatu yang sudah lama ia rindukan.
Malamnya, Adrian pulang terlambat lagi. Ia mendapati Hana
sudah duduk di ruang tamu dengan ekspresi datar.
“Kamu sibuk lagi?” tanya Hana tanpa nada menyalahkan,
meskipun matanya menunjukkan kekecewaan.
Adrian mengangguk. “Iya, maaf. Banyak pekerjaan yang harus
diselesaikan.”
Hana mendesah pelan. “Adrian, aku nggak masalah kamu kerja
keras. Tapi aku merasa kita semakin jauh.”
Adrian terdiam. Ia tahu Hana benar, tetapi ia tidak tahu
harus berkata apa.
“Aku juga merasa seperti itu,” jawab Adrian akhirnya. “Tapi
aku nggak tahu bagaimana memperbaikinya.”
“Kalau begitu kita harus bicara. Kita harus mencoba,” ujar
Hana, suaranya hampir putus.
Namun, sebelum percakapan itu bisa berlanjut, telepon Adrian
berdering. Ia mengangkatnya dengan cepat.
“Maaf, ini penting,” katanya sebelum pergi ke kamar untuk
menjawab telepon.
Hana duduk di sofa, merasa percakapan mereka selalu
terganggu oleh sesuatu. Ia merasa bahwa Adrian tidak lagi benar-benar hadir
dalam hidupnya.
Di sisi lain kota, Nadine sedang menatap ponselnya. Ia tahu
telepon itu hanya alasan Adrian untuk menghindari percakapan dengan Hana. Ada
rasa bersalah di hatinya, tetapi juga kebahagiaan karena Adrian semakin
mendekat padanya.
“Adrian, kamu baik-baik saja?” tanya Nadine di telepon.
“Aku nggak tahu, Nadine. Aku merasa terjebak.”
“Kamu tahu aku ada untukmu, kan?” Nadine berkata dengan
lembut, dan Adrian hanya terdiam, membiarkan kata-kata itu menggantung di
udara.
Cliffhanger Bab 4:
Hana dan Adrian semakin menjauh. Di satu sisi, Hana menemukan kehangatan dan
perhatian dari Farel, sementara Adrian merasa lebih nyaman berbagi dengan
Nadine. Hubungan mereka yang dulu kuat mulai kehilangan fondasinya,
meninggalkan keduanya dalam kebingungan dan rasa bersalah.
Bab 5: Ketidaksetiaan yang Tersembunyi
Hana sedang membereskan dapur ketika ponselnya bergetar di
atas meja. Sebuah pesan dari Farel muncul di layar:
“Lagi apa, Han? Aku ada waktu sore ini kalau kamu mau jalan-jalan.”
Hana menatap pesan itu cukup lama, jantungnya berdebar. Ia
tahu seharusnya ia menolak. Tapi, ada rasa nyaman yang selalu muncul saat ia
bersama Farel, sesuatu yang tidak lagi ia temukan bersama Adrian. Akhirnya, ia
mengetik balasan.
“Aku sedang tidak sibuk. Mungkin kita bisa bertemu di taman dekat galeri?”
Di sisi lain kota, Adrian duduk di ruang kerja Nadine.
Mereka baru saja menyelesaikan diskusi panjang tentang proyek yang sedang
mereka kerjakan. Nadine menuangkan secangkir kopi untuk Adrian, lalu duduk di
kursi seberangnya.
“Kamu kelihatan lelah,” komentar Nadine sambil menatap
Adrian dengan tatapan lembut.
Adrian menghela napas. “Mungkin. Ada terlalu banyak hal yang
harus kupikirkan.”
Nadine tersenyum kecil. “Kamu harus tahu kapan harus
istirahat. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan stres.”
Kata-katanya terasa menenangkan. Tanpa sadar, Adrian mulai
menceritakan hal-hal yang selama ini ia pendam: tentang pernikahannya yang
mulai terasa hambar, tentang jarak yang semakin jauh antara dirinya dan Hana.
“Aku merasa... aku kehilangan koneksi dengannya,” ujar
Adrian pelan.
Nadine mengangguk penuh empati. “Mungkin yang kamu butuhkan
adalah seseorang yang benar-benar mengerti kamu. Seseorang yang bisa jadi
pelengkap hidupmu.”
Adrian menatap Nadine. Ada sesuatu dalam tatapannya yang
membuat batas-batas moralnya mulai kabur. Namun, ia tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya mengangguk dan menerima kehadiran Nadine sebagai tempat pelariannya.
Sore itu, Hana dan Farel berjalan-jalan di taman. Matahari
mulai terbenam, dan udara terasa sejuk. Mereka duduk di bangku taman,
membicarakan hal-hal ringan yang membuat Hana melupakan kegelisahannya.
“Han, aku nggak tahu apakah ini waktu yang tepat untuk
bilang ini, tapi aku merasa kamu bukan dirimu yang sebenarnya,” kata Farel
tiba-tiba.
Hana menoleh, menatap Farel dengan bingung. “Apa maksudmu?”
“Kamu kelihatan nggak bahagia, Han. Aku kenal kamu lebih
baik dari siapa pun, dan aku bisa melihatnya di matamu.”
Hana terdiam. Kata-kata Farel terasa seperti cermin yang
memantulkan semua perasaannya.
“Aku... aku nggak tahu, Farel. Aku merasa kosong, tapi aku
nggak tahu harus bagaimana,” jawab Hana akhirnya.
Farel menggenggam tangannya. “Kamu tahu aku selalu ada
untukmu, Han. Kalau kamu butuh seseorang, aku di sini.”
Hana merasakan detak jantungnya semakin cepat. Sentuhan
Farel terasa menenangkan, tetapi juga membingungkan. Ia tahu ini salah, tetapi
ia tidak bisa menghindari kenyamanan yang ditawarkan Farel.
Malam itu, Adrian pulang terlambat lagi. Ia mendapati Hana
sudah tertidur di sofa, dengan buku terbuka di tangannya. Adrian
memperhatikannya sejenak, merasa ada sesuatu yang berubah pada istrinya. Tapi
ia tidak tahu apa itu.
Ia masuk ke kamar, lalu mengecek ponselnya. Ada pesan dari
Nadine:
“Terima kasih untuk hari ini, Adrian. Aku senang bisa mendengarkanmu.”
Adrian tidak membalas. Ia hanya menatap pesan itu cukup
lama, merasa terjebak antara rasa bersalah dan kelegaan.
Hana terbangun di tengah malam dan melihat Adrian sudah
berada di kamar. Ia berjalan pelan ke dapur untuk mengambil air, tetapi
langkahnya terhenti ketika ia melihat ponsel Adrian tergeletak di meja. Sebuah
pesan muncul di layar, cukup untuk membuat Hana terdiam:
“Besok aku siapkan dokumen yang kita butuhkan. Jangan lupa istirahat, ya. -
Nadine.”
Hana menatap ponsel itu cukup lama, hatinya berdegup
kencang. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ada sesuatu dalam pesan
itu yang membuatnya merasa ada yang tidak beres.
Cliffhanger Bab 5:
Hana mulai mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan Adrian, sementara ia
sendiri terjebak dalam kebingungan emosional dengan Farel. Di sisi lain,
hubungan Adrian dan Nadine semakin dalam, mengancam batas-batas kesetiaan yang
seharusnya mereka jaga.
Bab 6: Kebohongan yang Terbongkar
Hana duduk di meja makan dengan secangkir kopi yang sudah
dingin di hadapannya. Ia menatap kosong ke arah ponselnya, pikirannya penuh
dengan pesan yang ia lihat semalam di ponsel Adrian. Nadine. Siapa dia? Apa
hubungan mereka?
Hana tidak ingin menjadi istri yang paranoid, tapi ia merasa
harus tahu kebenarannya. Dengan hati berat, ia membuka media sosial Adrian,
sesuatu yang jarang ia lakukan. Di salah satu foto acara kantor, ia melihat
sosok Nadine—seorang wanita cantik dengan senyum memikat, berdiri cukup dekat
dengan Adrian.
Di kantor, Adrian sibuk memimpin rapat ketika Nadine masuk
dengan berkas di tangannya. Ia memberikan senyum manis, seperti biasa, dan
duduk di dekat Adrian.
“Adrian, aku sudah siapkan dokumen yang kamu minta,” ujar
Nadine sambil menyerahkan sebuah map.
Adrian mengangguk. “Terima kasih, Nadine. Aku benar-benar
menghargai semua kerja kerasmu.”
“Untukmu, aku akan selalu berusaha maksimal,” jawab Nadine
sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diabaikan.
Adrian tersenyum kecil, mencoba mengalihkan perhatian dari
perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya. Namun, ia tahu ia mulai melangkah ke
arah yang salah.
Sore itu, Hana memutuskan untuk mengunjungi kantor Adrian
tanpa memberitahunya. Ia ingin memastikan sendiri, ingin tahu apa yang
sebenarnya terjadi.
Ketika ia tiba, suasana kantor tampak sibuk. Ia mendekati
meja resepsionis dan memperkenalkan dirinya. “Saya Hana, istri Adrian. Apakah
dia sedang di kantornya?”
Resepsionis terlihat sedikit bingung. “Oh, Adrian baru saja
keluar. Dia pergi bersama Nadine, salah satu kolega kami. Mereka bilang ada
rapat di luar kantor.”
Hana merasakan sesuatu dalam dirinya runtuh. Nadine.
Lagi-lagi nama itu. Ia mengucapkan terima kasih dengan suara pelan, lalu keluar
dari gedung dengan langkah berat.
Sementara itu, Adrian dan Nadine sedang makan malam bersama
di sebuah restoran mewah. Makan malam itu awalnya hanya untuk membahas
pekerjaan, tetapi suasana menjadi lebih personal seiring waktu.
“Nadine, aku tidak pernah menyangka akan merasa seperti
ini,” kata Adrian pelan, sambil memandangi gelas anggurnya.
Nadine menatapnya dengan penuh perhatian. “Seperti apa?”
“Seperti... aku bisa terbuka dengan seseorang. Aku merasa
kamu mengerti aku, Nadine. Lebih dari siapa pun.”
Nadine tersenyum lembut. “Aku senang bisa ada untukmu,
Adrian. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan.”
Momen itu terasa seperti waktu berhenti. Adrian tahu apa
yang terjadi salah, tapi ia tidak bisa menghentikannya.
Di rumah, Hana mencoba menghubungi Adrian, tetapi
panggilannya tidak dijawab. Ia merasa frustasi, seolah-olah ia sedang berbicara
dengan seseorang yang perlahan-lahan menjauh darinya.
Farel, yang menyadari ada sesuatu yang salah dengan Hana,
mengirim pesan.
“Han, aku ada di sekitar sini. Kalau kamu butuh seseorang untuk diajak bicara,
aku siap.”
Hana merasa bimbang. Ia tahu berbicara dengan Farel akan
membuatnya merasa lebih baik, tetapi ia juga sadar bahwa ini bisa membawa
masalah baru. Akhirnya, ia mengetik balasan.
“Aku butuh teman bicara, Farel. Aku akan keluar sekarang.”
Ketika Hana bertemu Farel di sebuah kafe kecil, ia akhirnya
membuka semua perasaannya. Tentang Adrian, tentang Nadine, tentang rasa
kehilangan yang terus menghantuinya.
“Han, kamu nggak bisa terus-terusan seperti ini. Kamu harus
cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan biarkan dirimu terjebak,” kata
Farel dengan serius.
“Aku takut, Farel. Aku takut apa yang akan aku temukan,”
jawab Hana dengan suara gemetar.
Farel menggenggam tangan Hana. “Apa pun yang terjadi, aku di
sini untukmu.”
Hana merasakan hatinya hangat, tetapi juga dipenuhi rasa
bersalah. Ia tahu apa yang ia lakukan ini salah, tetapi ia merasa tidak punya
pilihan lain.
Ketika Adrian pulang larut malam, Hana sudah menunggunya di
ruang tamu. Ia duduk dengan wajah serius, ponselnya di tangan.
“Kamu dari mana, Adrian?” tanya Hana langsung.
“Rapat,” jawab Adrian singkat.
“Dengan Nadine?” lanjut Hana, tatapannya tajam.
Adrian terdiam. Ia tidak menyangka Hana akan menyebut nama
Nadine. “Iya, kami membahas pekerjaan.”
“Pekerjaan? Atau sesuatu yang lain?” suara Hana mulai
bergetar.
“Hana, aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi aku nggak
melakukan apa pun yang salah,” kata Adrian defensif.
“Benarkah? Lalu kenapa aku merasa seperti aku kehilangan
kamu, Adrian? Kenapa kamu lebih sering bersama dia daripada aku?”
Pertengkaran itu meledak. Keduanya saling melempar kata-kata
yang menyakitkan, saling menyalahkan, tanpa ada yang mau mengakui kesalahan.
Akhirnya, Adrian mengambil jasnya dan keluar dari rumah, meninggalkan Hana
dengan air mata yang tak terbendung.
Cliffhanger Bab 6:
Hana merasa hancur setelah pertengkaran besar mereka. Sementara itu, Adrian
pergi mencari pelarian, dan pikirannya terus memikirkan Nadine. Hubungan mereka
berdua semakin mendekati jurang kehancuran.
Bab 7: Cinta yang Membingungkan
Hana menatap jendela kamar, mencoba menenangkan pikirannya
setelah pertengkaran besar dengan Adrian tadi malam. Suaminya tidak kembali,
dan Hana tidak tahu di mana dia berada. Hatinya penuh dengan kebingungan dan
sakit hati.
Ponselnya berbunyi, menampilkan nama Farel di layar.
“Hana, apa kamu baik-baik saja?” suara Farel terdengar
lembut namun penuh kekhawatiran.
Hana menghela napas panjang sebelum menjawab. “Aku nggak
tahu, Farel. Aku merasa semuanya hancur.”
“Aku di dekat rumahmu. Kalau kamu butuh seseorang, aku bisa
datang sekarang,” tawar Farel.
Hana terdiam, lalu akhirnya berkata, “Tunggu aku di taman
belakang. Aku akan ke sana.”
Sementara itu, Adrian duduk di sebuah bar kecil, menatap
kosong ke gelas minumannya. Pikirannya penuh dengan pertengkaran dengan Hana
dan tatapan kecewa di matanya.
Ponselnya bergetar, dan nama Nadine muncul di layar. Adrian
menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Nadine dengan nada khawatir.
Adrian mendesah pelan. “Aku nggak tahu, Nadine. Rasanya
semuanya kacau.”
“Kalau kamu butuh bicara, aku di sini. Aku bisa ke
tempatmu,” tawar Nadine.
Adrian ragu sejenak, tetapi akhirnya setuju. “Aku ada di bar
dekat kantor. Aku tunggu di sini.”
Beberapa menit kemudian, Nadine datang dengan senyuman
lembut di wajahnya. Ia duduk di sebelah Adrian dan menatapnya dengan penuh
empati.
“Aku tahu ini mungkin bukan urusanku, tapi aku bisa melihat
kamu butuh seseorang yang mengerti kamu,” ujar Nadine.
Adrian tidak menjawab, tetapi kehadiran Nadine terasa
seperti pelarian dari semua kekacauan di rumahnya.
Di taman belakang rumahnya, Hana duduk bersama Farel di
bangku kayu yang menghadap kebun kecil.
“Farel, aku merasa seperti aku kehilangan semua yang pernah
aku miliki,” kata Hana, suaranya gemetar.
Farel menatapnya dengan serius. “Hana, kamu adalah orang
yang kuat. Tapi kamu juga manusia. Kamu berhak merasa lelah.”
Hana menatap Farel, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak tahu
harus bagaimana, Farel. Aku nggak yakin apakah aku masih bisa memperbaiki ini
semua.”
Farel menggenggam tangannya. “Kamu nggak perlu memutuskan
sekarang. Tapi ingat, kamu nggak sendirian. Aku selalu ada untukmu.”
Hana merasa hatinya hangat mendengar kata-kata Farel. Dalam
pelukan emosional itu, ia menemukan kenyamanan yang sudah lama hilang.
Malamnya, Adrian kembali ke rumah. Hana sudah berada di
kamar, berbaring dengan punggung menghadap pintu. Adrian berdiri di ambang
pintu, menatap istrinya dengan perasaan campur aduk.
“Hana,” panggil Adrian pelan.
Hana tidak menjawab, tetapi ia mendengar langkah Adrian
mendekat.
“Aku minta maaf,” kata Adrian akhirnya. “Aku tahu aku salah.
Aku tahu aku membuat jarak di antara kita.”
Hana tetap diam, tetapi air mata mulai mengalir di pipinya.
Adrian melanjutkan, suaranya penuh penyesalan. “Aku nggak
tahu bagaimana memperbaiki semuanya, Hana. Tapi aku ingin mencoba, kalau kamu
masih mau.”
Hana akhirnya berbalik, menatap Adrian dengan mata yang
merah. “Aku juga ingin mencoba, Adrian. Tapi aku nggak tahu apakah kita masih
bisa kembali seperti dulu.”
Malam itu, mereka tidur di ranjang yang sama, tetapi jarak
di antara mereka terasa lebih nyata daripada sebelumnya.
Cliffhanger Bab 7:
Hana merasa bingung antara mencoba memperbaiki hubungannya dengan Adrian atau
mengikuti perasaannya terhadap Farel. Sementara itu, Adrian mulai menyadari
bahwa hubungannya dengan Nadine semakin memengaruhi pernikahannya, tetapi ia
belum bisa memutuskan apakah akan berhenti atau terus melanjutkan.
Bab 8: Pengkhianatan yang Terungkap
Pagi itu, Hana duduk di meja makan sambil memainkan sendok
di cangkir kopinya. Malam tadi ia dan Adrian berbicara, tetapi percakapan
mereka tidak membawa jawaban. Jarak di antara mereka terasa terlalu jauh.
Adrian sudah pergi ke kantor lebih awal, dan Hana memutuskan
untuk pergi ke galeri seni. Ia merasa perlu melarikan diri dari suasana rumah
yang membebaninya.
Namun, di galeri, ia dikejutkan oleh kedatangan Farel.
“Hana, aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu,” kata Farel
dengan nada tegas.
Hana menatapnya dengan mata penuh kebingungan. “Farel, aku
nggak tahu apakah aku bisa melakukan ini. Hidupku sudah terlalu rumit.”
Farel mendekat, menatapnya dengan penuh keyakinan. “Aku
nggak minta kamu memutuskan sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada
di sini untukmu, apa pun yang terjadi.”
Di kantor, Adrian sedang duduk di ruangannya ketika Nadine
masuk dengan membawa map dokumen.
“Adrian, aku sudah siapkan semuanya untuk presentasi,”
katanya sambil meletakkan map di meja.
Adrian tersenyum kecil. “Terima kasih, Nadine. Kamu selalu
bisa diandalkan.”
Mereka berbicara sebentar tentang pekerjaan, tetapi
pembicaraan itu berubah menjadi percakapan yang lebih personal.
“Nadine, aku merasa bersalah,” kata Adrian tiba-tiba.
Nadine menatapnya dengan cemas. “Kenapa? Apa yang terjadi?”
“Aku tahu aku melibatkanmu terlalu jauh dalam hidupku. Aku
merasa ini salah, tetapi aku juga nggak bisa menghentikan diri.”
Nadine mendekat, duduk di kursi di seberangnya. “Adrian, aku
tidak pernah memaksamu. Aku hanya ingin kamu bahagia. Kalau aku bisa menjadi
bagian dari kebahagiaan itu, aku akan senang.”
Adrian terdiam. Kata-kata Nadine membuatnya merasa nyaman,
tetapi juga menambah rasa bersalahnya terhadap Hana.
Sore itu, Hana memutuskan untuk memberanikan diri memeriksa
ponsel Adrian. Ketika Adrian mandi, Hana mengambil ponselnya yang tergeletak di
meja. Ia membuka pesan-pesan di dalamnya dan menemukan percakapan panjang
antara Adrian dan Nadine.
Pesan-pesan itu penuh dengan keintiman yang tidak pernah
lagi ia dapatkan dari Adrian. Pesan terakhir dari Nadine membuat tubuhnya
gemetar:
“Adrian, aku senang kita bisa bersama tadi malam. Aku harap kita punya lebih
banyak waktu seperti itu.”
Hana merasa seluruh dunianya runtuh. Tangannya gemetar saat
meletakkan ponsel itu kembali di meja. Ketika Adrian keluar dari kamar mandi,
ia mendapati Hana duduk di tepi ranjang dengan wajah penuh kemarahan dan air
mata.
“Kamu benar-benar melakukannya, Adrian?” tanya Hana dengan
suara bergetar.
Adrian terlihat bingung. “Apa maksudmu, Hana?”
Hana menunjuk ponselnya. “Aku membaca pesan-pesanmu. Nadine.
Jadi selama ini aku benar, kan? Kamu selingkuh!”
Adrian terdiam, wajahnya berubah pucat. Ia mencoba
berbicara, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Kenapa, Adrian? Apa aku kurang cukup untukmu?” Hana hampir
berteriak, air matanya mengalir deras.
“Aku... aku nggak tahu, Hana. Aku merasa kita kehilangan
sesuatu. Dan Nadine... dia hanya—”
“Dia hanya apa? Pelarian? Tempat kamu kabur dari masalah
kita?” Hana memotong dengan suara penuh luka.
Adrian mencoba mendekat, tetapi Hana mundur. “Jangan sentuh
aku, Adrian. Aku nggak tahu apakah aku bisa memaafkan ini.”
Malam itu, Adrian meninggalkan rumah untuk memberi ruang
bagi Hana. Ia pergi ke apartemen Nadine, merasa bingung dan kehilangan. Nadine
membuka pintu dengan senyum, tetapi Adrian tidak bisa membalasnya.
“Nadine, aku nggak bisa terus begini,” kata Adrian, suaranya
berat.
“Apa maksudmu?” tanya Nadine dengan cemas.
“Hubungan kita salah. Aku sudah menghancurkan banyak hal di
rumah, dan aku nggak mau menghancurkan lebih banyak lagi.”
Nadine terdiam, lalu berkata pelan, “Aku mengerti, Adrian.
Tapi aku juga mencintaimu.”
Adrian hanya menunduk, tidak bisa menjawab.
Di rumah, Hana menangis sendirian di kamar. Ia membuka
ponselnya dan melihat pesan dari Farel.
“Hana, aku di sini kalau kamu butuh aku.”
Hana mengetik balasan dengan tangan gemetar. “Aku butuh
kamu, Farel. Sekarang.”
Cliffhanger Bab 8:
Hana akhirnya mengetahui pengkhianatan Adrian, sementara Adrian mencoba
melepaskan hubungannya dengan Nadine. Di sisi lain, Hana semakin mendekatkan
dirinya kepada Farel, membawa hubungan mereka ke titik yang tidak bisa kembali.
Bab 9: Penyesalan dan Pilihan
Hana duduk di sebuah kafe kecil, memandang kosong ke luar
jendela. Di hadapannya, Farel menatapnya dengan cemas, mencoba memahami apa
yang terjadi.
“Hana, kamu kelihatan seperti membawa beban berat di
pundakmu. Cerita sama aku,” katanya dengan lembut.
Hana menghela napas panjang. “Adrian selingkuh, Farel. Aku
melihat semua pesan-pesannya dengan Nadine.”
Farel terdiam, mencoba menahan amarah yang berkobar di
dadanya. “Aku tahu dia sering sibuk, tapi aku nggak nyangka dia bisa melakukan
itu. Kamu nggak pantas diperlakukan seperti ini, Hana.”
Air mata mulai mengalir di pipi Hana. “Aku nggak tahu harus
bagaimana. Aku marah, aku kecewa, tapi aku juga nggak bisa bilang aku nggak
mencintainya.”
Farel menggenggam tangan Hana. “Hana, kadang cinta nggak
cukup. Kalau dia nggak menghargai kamu, kamu harus memilih dirimu sendiri.”
Hana terdiam, merasa tersentuh oleh kata-kata Farel. Tapi
hatinya masih penuh dengan kebingungan.
Di tempat lain, Adrian duduk di ruang tamu apartemen Nadine,
merasa berat setelah percakapan mereka malam sebelumnya.
“Nadine, aku harus kembali ke rumah,” katanya pelan.
Nadine menatapnya dengan luka di matanya. “Jadi kamu memilih
untuk kembali padanya? Setelah semua yang kita lalui?”
Adrian menunduk. “Aku nggak bilang semuanya bisa kembali
seperti semula. Tapi aku nggak bisa terus seperti ini. Aku sudah menghancurkan
cukup banyak hal.”
Nadine menarik napas panjang, berusaha menahan air mata.
“Aku hanya ingin kamu bahagia, Adrian. Kalau itu berarti kembali padanya, aku
akan terima.”
Adrian berdiri, menatap Nadine untuk terakhir kalinya
sebelum pergi. Ia merasa kosong, tetapi ia tahu ini adalah langkah yang harus
ia ambil.
Malam itu, Adrian kembali ke rumah. Hana duduk di ruang
tamu, menatapnya dengan dingin.
“Kamu kembali?” tanya Hana, suaranya datar.
Adrian mengangguk. “Aku tahu aku salah, Hana. Aku nggak
punya alasan untuk apa yang sudah aku lakukan. Tapi aku ingin mencoba
memperbaiki semuanya, kalau kamu masih memberiku kesempatan.”
Hana tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan dalam
tawanya. “Kesempatan? Adrian, kamu tahu seberapa dalam luka yang kamu buat?”
“Aku tahu, dan aku nggak akan menyalahkanmu kalau kamu nggak
bisa memaafkan aku. Tapi aku ingin memperjuangkan kita, Hana,” kata Adrian
dengan suara penuh penyesalan.
Hana terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Aku butuh
waktu. Aku nggak bisa memutuskan sekarang.”
Adrian mengangguk. “Aku akan menunggumu.”
Beberapa hari berlalu, dan Hana mencoba mencari ketenangan
dalam dirinya. Ia menghabiskan waktu sendirian di galeri seni, merenungkan
hidupnya. Di sisi lain, Farel terus menghubunginya, menawarkan perhatian dan
kenyamanan.
“Hana, aku nggak mau memaksa. Tapi aku ingin kamu tahu, aku
selalu ada di sini untukmu,” ujar Farel dalam sebuah percakapan telepon.
Hana merasa terjebak antara dua pilihan: memaafkan Adrian
dan mencoba membangun kembali rumah tangganya, atau memulai hidup baru bersama
Farel yang memberinya kenyamanan yang telah lama hilang.
Sementara itu, Adrian berusaha membuktikan dirinya. Ia mulai
pulang tepat waktu, menunjukkan perhatian kecil seperti membuatkan teh untuk
Hana atau membantunya di dapur. Tapi ia tahu ini tidak cukup untuk menghapus
kesalahannya.
Suatu malam, saat mereka makan malam bersama, Adrian
berkata, “Hana, aku ingin kamu tahu bahwa apa pun keputusanmu, aku akan
menerimanya. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu, meskipun aku telah
membuat kesalahan besar.”
Hana menatapnya, merasa hatinya mulai luluh, tetapi luka itu
masih terlalu dalam untuk sepenuhnya sembuh.
Cliffhanger Bab 9:
Hana masih bimbang antara memperjuangkan pernikahannya atau memilih untuk
melepaskan semuanya dan memulai hidup baru bersama Farel. Adrian terus berusaha
membuktikan bahwa ia bisa berubah, tetapi apakah itu cukup untuk menghapus
pengkhianatan yang sudah terjadi?
Bab 10: Akhir yang Tidak Sempurna
Hana berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang
terlihat letih. Berhari-hari ia mencoba membuat keputusan, tetapi hatinya terus
berkonflik. Adrian, suaminya, adalah cinta pertamanya, seseorang yang selalu ia
percayai hingga pengkhianatan itu menghancurkan segalanya. Di sisi lain, ada
Farel, sosok yang menawarkan kenyamanan dan kebahagiaan yang pernah ia lupakan.
Hari itu, Hana memutuskan untuk bertemu dengan keduanya,
satu per satu, demi mendapatkan kejelasan dalam hatinya.
Pertemuan dengan Farel
Hana dan Farel duduk di taman, tempat yang menjadi saksi
pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.
“Farel, kamu tahu aku sangat menghargai kamu,” kata Hana
dengan suara pelan.
“Aku tahu, Hana. Tapi aku ingin lebih dari itu. Aku ingin
ada di sisimu, membuatmu bahagia,” jawab Farel tegas.
Hana menunduk, bermain dengan cincin di jarinya. “Kamu
memberiku kenyamanan yang tidak bisa aku temukan di tempat lain. Tapi, Farel,
aku masih terikat dengan masa lalu. Aku masih mencintai Adrian, meskipun dia
telah melukai aku.”
Farel menatapnya dengan raut kecewa, tetapi ia tetap tenang.
“Aku mengerti, Hana. Aku hanya ingin kamu bahagia, apa pun pilihanmu. Kalau
suatu hari kamu butuh aku lagi, aku akan ada di sini.”
Air mata mengalir di pipi Hana. Ia tahu ia harus melepaskan
Farel, meskipun ia sangat menghargai kehadirannya dalam hidupnya.
Pertemuan dengan Adrian
Adrian menunggu Hana di ruang tamu rumah mereka. Ketika Hana
masuk, ia berdiri, tampak gugup tetapi penuh harap.
“Hana, aku nggak tahu apa yang akan kamu katakan. Tapi aku
hanya ingin kamu tahu bahwa aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan,”
kata Adrian dengan suara serak.
Hana duduk di sofa, menatap Adrian dengan mata yang penuh
emosi. “Adrian, aku nggak akan pernah bisa melupakan apa yang kamu lakukan.
Tapi aku juga tahu bahwa aku masih mencintaimu, meskipun itu menyakitkan.”
Adrian mendekat, tetapi menjaga jarak agar tidak membuat
Hana merasa tertekan. “Aku bersedia melakukan apa pun untuk memperbaiki ini.
Aku tahu aku tidak bisa menghapus apa yang terjadi, tapi aku ingin mencoba
membangun kembali kepercayaanmu.”
Hana menatap cincin pernikahannya, mencoba menemukan
kekuatan untuk berkata, “Adrian, ini nggak akan mudah. Luka ini terlalu dalam.
Tapi aku ingin mencoba memperbaikinya, untuk kita.”
Adrian terkejut, tetapi ia segera mengangguk, matanya
berkaca-kaca. “Terima kasih, Hana. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan
ini.”
Epilog
Beberapa bulan kemudian, Hana dan Adrian perlahan mencoba
membangun kembali hubungan mereka. Prosesnya tidak mudah. Luka pengkhianatan
masih membekas, tetapi mereka sepakat untuk berkomunikasi lebih baik dan saling
memahami.
Farel memutuskan untuk meninggalkan kota, memberikan ruang
bagi Hana untuk menjalani pilihannya tanpa distraksi. Sebelum pergi, ia
mengirim pesan singkat:
“Hana, aku akan selalu mengingatmu. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang kamu
cari.”
Hana tersenyum pahit saat membaca pesan itu, merasa
bersyukur memiliki seseorang seperti Farel di hidupnya.
Adrian, di sisi lain, terus berusaha menunjukkan perubahan.
Ia lebih hadir dalam kehidupan Hana, memberikan perhatian yang selama ini
terabaikan.
Meskipun perjalanan mereka penuh dengan luka, Hana dan
Adrian memutuskan untuk tetap berjalan bersama, berharap waktu akan membantu
menyembuhkan apa yang telah hancur.
Akhir yang Tidak Sempurna
Hana menyadari bahwa cinta tidak pernah benar-benar sederhana. Pengkhianatan
meninggalkan bekas yang sulit dihapus, tetapi ia memilih untuk berjuang demi
sesuatu yang pernah mereka bangun bersama. Namun, bayangan masa lalu, baik
Farel maupun Nadine, tetap menjadi pengingat bahwa cinta membutuhkan
kepercayaan, usaha, dan, terkadang, pengorbanan.
Penutup
Hubungan mereka mungkin tidak akan pernah sama seperti dulu, tetapi mereka
memilih untuk tidak menyerah. Dalam perjalanan cinta, mungkin tidak ada akhir
yang sempurna—hanya pilihan yang dibuat dengan hati.
Novel Pendek
ini ditulis oleh penulis Novel Pendek Dukala Art.
